Jumat, 08 Mei 2015

Perkembangan Manusia Purba di Indonesia

A. Pengertian Manusia Purba

        Manusia purba (prehistoric people) adalah jenis manusia yang mendiami bumi sekitar 4 juta tahun yang lalu. Akan tetapi, para ahli sejarah meyakini bahwa jenis manusia pertama telah hidup di muka bumi ini sekitar 2 juta tahun yang lalu.karen alamnya waktu , sisa-sisa manusia purba menjadi fosil. Oleh karena itu, manusia purba juga disebut manusia fosil.
         Peneitian terhadap manusia yang hidup pada zaman praaksara dapat dipelajari oleh para ahli paleoantropologi dengan mengamati bentuk fisik dari fosil dan tengkorak. Adapun untuk mengetahui corak kehidupan manusia praaksara dapat diteliti oleh para ahli arkeologi dari fosil alat atau sisa keidupan manusia praaksara, seperti abris sous roche dan kjokkenmoddinger yg ada di dekat sungai,gua ataupun pantai.
        Manusia praaksara yang ada di Indonesia dan di dunia dapat digolongkan ke dalam beberapa jenis. Setiap jenis memliki sifat dan karakter yg khas sesuai tempat dan zamannya.  Pada abad ke-19 masa india belanda di Indonesia pertama kali diadakan penelitian manusia purba. Peneliti pertama manusia purba di Indonesia adalah Eugene Dubois.
          Menurut Eugene Dubois, kehidupan manusia purba pada zaman es(pleitosen) dan holosen awal berpusatnya di daerah tropis seperti Indonesia.  Daerah  Indonesia yang berada di lintang tropis memiliki intensitas sinar matahari yang setabil sehingga suhu menjadi stabil. Fosil-fosil manusia purba yang ditemukan oleh para ahli kebanyakan berupa tengkorak  dan tulang yang berserakan di sekitar sungai

1.       Jenis-jenis manusia purba di Indonesia


    a.  Meganthropus

       Jenis meganthropus yang paling terkenal adalah meganthropus paleojavanicus yang fosilnya ditemukan di sangiran berupa 1 gigi taring dan 2 geraham oleh von koenigswald pada tahun 1936 dan 1941.
       Meganthropus paleojavanicus berasal dari kata mega = besar , paleo = tua , dan java = jawa. Jadi, meganthropus paleojavanicus artinya manusia besar yang diperkirakan manuisa pertama yang hidup di Indonesia. meganthropus paleojavanicus hidup secara food gathering (mengumpulkan makanan dari hutan).
         Cirri-ciri meganthropus paleojavanicus adalah sebagai berikut

  1. Sudah berbadan tegap dengan tonjolan tajam dibelakag kepala
  2. Bertulang pipi tebal dengan tonjolan kening yang mencolok dan tidak berdagu.
  3. Otot kunyah, gigi, serta rahang besar dan kuat, diperkirakan makanan meganthropus       paleojavanicus adalah jenis tumbu-tumbuhan.

Sebagian para ahli menggolongkan meganthropus paleojavanicus ke dalam pithecanthropus atau homo, tetapi ada juga yang berpendapat meganthropus paleojavanicus termasuk golongan Australopithecus. Menurut prof. dr. teuku Jacob, meganthropus merupakan pithecanthropus dengan badan yang besar.

b. Pithecanthropus

     Pithecanthropus disebut juga manusia kera. Berdasarkan fosil-fosil yang di temukan, pithecanthropus merupakan jenis manusia purba yang paling banyak jenisnya di Indonesia. Fosil pithecanthropus ditemukan di trinil, perning daerah mojokerto, sangiran, kedung brubus, sambung macan, dan ngandong. Pithecanthropus hidup diantara 2 juta – 200 ribu tahun yang lalu.
     Eugene Dubois  menyimpulkan bahwa fosil pithecanthropus memilii volume otak 900 cc yang lebih kecil dibandingkan dengan volume otak manusia yang di atas 1.000 cc dan lebih besar dari pada volume otak kera yang tertinggi hanya 600 cc. Oleh karena itulah, fosil ini disebut pithecanthropus yang berarti manusia kera.
Cirri-ciri pithecanthropus adalah sebagai berikut :
  1.        Tinggi tubuhnya kira-kira 165-180 cm.
  2.        Badan tegap, namun tidak setegap meganthropus .
  3.        Tonjolan kening tebal dan melintang sepanjang pelipis.
  4.        Oto kunyah tidak sekuat meganthropus .
  5.        Volume otaknya 750-1.300 cc.
  6.        Makanya bervariasi, yaitu tumbuhan dan daging hewan buruan.

        jenis - jenis pithecanthropus adalah sebagai berikut  

1.     Pithecanthropus Mojokertensis (manusia kera dari mojokerto)

    fosil ini diteliti dan ditemukan oleh Von Koenigswald tahun 1926-1941 di daerah Perning, Mojokerto, Jawa Timur.

2.     Pithecanthropus erectus atau Homo erectus

     Fosil manusia purba jeni Pithecanthropus erectus ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1890 di Trinil, lembah Sungai Bengawan Solo berasal dari pleistosen tengah. Diperkirakan hidup Pithecanthropus pada 700.000 tahun yang lalu.
     Nama ilmiah Pithecanthropus erectus adalah Homo erectus yang berarti manusia yang berjalan tegak. Homo erectus dipercaya berasal dari afrika dan berimigran selama masa pleistosen sekitar 2 juta tahun yang lalu. Homo erectus mempunyai volume otak 900 cc, tulang keningnya menojol, tulang dahi lurus ke belakang, tulang kaki cukup besar, dan gerahamnya masih besar. Tinggi badan antara 165-170 cm dan berat badan 100 kg.
      Homo erectu memiliki kemampuan inteligensia yang tinggi.hal tersebut didapat dari kebiasaan mereka menggunakan api. penelitian yang di publikasikan dalam Cambridge Archeological Journal memperlihatkan bahwa penggunaan api membutuhkan perencanaan jangka panjang dan kerja sama kelompok.menurut Antropolog dari Universitas of Melbourne Australia (Terrence Twomey), Homo erectus sudah mampu bekerja satu sama lain dan tidak mencuri makanan dari orang lain. Terrence juga menjelaskan bahwa sebagian Homo erectus telah menggunakan api sejak 1 juta tahun yang lalu.
     Menurut beberapa antropolog, Homo erectus membutuhkan nutrisi makanan yang berasal dari daging dan mengharuskan makanan dimasak untuk menetralisir bakteri.
Homo erectus memiliki kemampuan perencanaan jangka panjang. Mereka mengumpulkan kayu bakar, mengantisipasi kemungkinan api akan padam, dan mengantisipasi badai untuk kelangsungan api. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Homo erectus telah menerapkan  sikap kerja sama, memiliki tanggung jawab, dan menjungjung nilai kejujuran.
     Manusia purba jenis Meganthropus Paleojavanicus dan Pithecanthropus belum dapat dikategorikan sebagai manusia cerdas. Kategori tersebut dapat dilihat dari volume otak dan bentuk fisiknya yang belum menyerupai manusia modern seperti sekarang. Namun, dengan kekuasaan tuhan sedikit demi sedikit bentuk manusia semakin sempurna. Pada tahap selanjutnya muncul jenis manusia lain bentuk manusia semakin sempurn. Pada tahap selanjutnya muncul jenis manusia lain yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari pada jenis Meganthropus paleojavanicus dan Pithecanthropus. Jenis manusia yang dimaksud adalah Homo sapiens



c.     Homo sapiens ( manusia cerdas )

1.     Homo soloensis ( manusia purba dari solo )

     Fosil Homo soloensis ditemukan di sepanjang sungai Bengawan Solo yaitu di daerah Ngandong, Sambung Macan, dan Sangiran oleh ahli geologi  Belanda Ter Haar dan Ir. Oppenoorth tahun 1932-1932. Fosil yang ditemukan berupa 11 tengkorak yang kemudian diselidiki oleh Von Koegnigswald dan Weidenreich.
  Berdasarkan keadaannya , Homo soloensis bukan kera, melainkan manusia. Diperkirakan hidup Homo soloensis sekitar 900.000-300.000 tahun yang lalu. Menurut Von Koegnigswald, homo soloensis lebih tinggi tingkatannya dibandingkan Homo erectus. Diperkirakan homo soloensis merupakan evolusi dari Pithecanthropus erectus.
Homo soloensis oleh berbagai ahli digolongkan sezaman dengan homo neanderthalensis yang merupakan manuisa purba jenis homo sapiens dari eropa. Ciri homo soloensis antara lain volume otak 1.000-2.000 cc, tinggi badan 130-210 cm, otot tengkuk mengalami penyusutan, muka tidak menonjol, suka berdiri tegak, dan berjalan lebih sempurna.

2.     Homo wajakensis ( manusia urba dari wajak )

    Fosil Homo wajakensis ini sitemukan oleh Von Riechschoten di desa Wajak, Tulungagung, Jawa Timur pada tahun 1899. Kemudian penelitian terhadap fosil Homo wajakensis  ini dilakukan oleh Eugene Dubois. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Eugene Dubois adalah Homo wajakensis hidup antara 40.000 sampai 25.000 tahun yang lalu pada masa pleistosen akhir dan holosen. Otak Homo wajakensis telah berkembang seperti otak manusia sekarang, gigi mengecil, muka tidak menonjol ke depan, telah berjalan lebih tegak daripada Pithecanthropus. Tinggi tubuh Homo wajakensis antara 130-210 cm dengan berat badan kira-kira 30-150 kg.
Menurut Von Koegnigswald, homo wajakensis seperti Homo soloensis berasal dari lapisan pleistosen akhir dan mungkin sekali bisa dikelompokkan dalam jenis Homo sapiens. Sifat-sifat fisik Homo wajakensis lebih mendekati manusia sekarang atau lebih muda dari manusia soloensis.
       Homo wajakensis tidak hanya mengumpulkan makanan, tetapi juga telah mampu mengolah makanan yang didapat dari alam, seperti menguliti binatang buruan, lalu memasaknya dengan direbus atau dibakar. Homo wajakensis juga mampu membuat perahu lesung sehingga dengan perahi lesung tersebut mereka mampu menyeberangi pulau-pulau dan berimigrasi ke daerah timur Indonesia, bahkan sampai ke Australia. Diperkirakan manusia wajakensis yang berimigran ke Australia menjadi nenek moyang bangsa asli Australia.
    Ada beberapa fosil manusia yang ditemukan di Asia Tenggara yag memiliki kemiripan dengan manusia Homo wajakensis, seperti manusia Niah di Serawak ( Malaysia ) dan manusia Tabon di Palawa ( Filipina ). Selain di tempat tersebut, di Cina selatan juga ditemukan beberapa fosil yang menyerupai Homo wajakensis.

3.     Homo floresiensis ( manusia dari flores )

     Penelitian di Australia ( Mike Wormwood ) dan peneliti dari pusat Arkeologi National yang dipimpin oleh R.P. Soedjono pada tahun 2003 berhasil menemukan fosil kerangka kecil jenis hobit. Hobit tersebut ditemuan di Gua Liang Bua, sebuah gua kapur di Ruteng, Manggarai, Flores dan diperkirakan berusia 18.000 tahun. Kerangka hobit yang ditemukan berjenis kelamin wanita, ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan ukuran manusia normal.
         Selain menemukan kerangka hobit, di liang bua juga ditemukan fosil tikus raksasa sebesar kucing, gajah kerdil yang disebut stegadon, dan fosil komodo. Di tempat ini juga ditemukan peralatan dari batu, seperti yang digunakan Homo erectus, tetapi ukurannya lebih kecil. Selanjutnya temuan tersebut diumumkan sebagai spesies manusia baru yang disebut dengan Floresiensis atau manusia dari Flores. Diperkirakan Homo florensiesis memiliki tinggi badan 100 cm dan berat badan 3 kg. Homo florensiesis sudah berjalan tegak tidak memiliki dagu, dan hidup di kepulauan Flores sekitar 18.000 tahun lalu. 
        Penyebutan Homo floresiensis sebagai manusia baru masih kontroversi. Menurut harian Sydney Morning  Herald yang diterbitkan pada tanggal 19 November 2009, para ilmuwan menyatakan bahwa hobit yang ditemukan merupakan spesies yang belum diketahui. Pendapat tersebut berbeda dengan yang diutarakan oleh Teuku Jacob ( ahli Pleontropologi Universitas Gajah Mada ). Homo floresiensis menurut Teuku Jacob bukan merupakan spesies baru, melainkan nenek moyang dari orang-orang katai Flores yang menderita penyakit microcephalia, yaitu bertengkorak kecil dan berotak kecil. Smpai sekarang penyakit tersebut masih ditemukan di beberapa penduduk yang hidup di sekitar Gua Liang Bua.